Relakan Istri Kerja ke Taiwan, Yang Datang Malah Surat Minta Cerai. Ternyata Ini Penyebabnya!

Bapak satu anak asal salah satu desa di Kecamatan Gondang, Tulungagung, ini sungguh tak beruntung nasibnya. Sebut saja CH (32).

Dengan pandangan kosong, CH mengungkapkan nasib hidup yang dialami bersama NP (28), istrinya. “Kami berkeluarga baik hingga punya anak. Kemudian saya merantau ke Papua demi mencari nafkah,” tutur CH.

Dengan penuh semangat, CH bekerja serabutan di Papua dengan niat agar segera dapat membuat rumah untuk keluarga kecilnya. “Saat saya di luar Jawa (Papua), istri memantapkan diri untuk membantu saya bekerja agar cepat dapat membangun rumah sendiri. Karena memang tidak ada masalah, akhirnya saya mengizinkan,” ungkap CH.

NP kemudian pergi ke Taiwan sebagai TKW (tenaga kerja wanita). Hubungan mereka pun dilakukan melalui telepon.

Bahkan, keduanya sepakat mengirim uang kepada adiknya yang ada di rumah agar selama bekerja hasil yang dikirimkan dapat terkumpul. “Uang hasil kerja kami, baik dari istri dan dari saya, semua dikirim ke adik istri,” ungkapnya.

Beberapa bulan lalu, CH kembali pulang ke rumah di Gondang. Namun, NP istrinya masih tetap di Taiwan untuk bekerja. Saat itulah, CH menerima kabar yang tidak dia sangka. “Saya sangat terkejut. Perangkat desa memberikan kabar kepada saya jika istri saya mengurus surat perceraian,” ucapnya.

Tentu saja, kabar itu bagaikan petir di siang bolong bagi CH. Kenyataan itu tidak bisa CH terima karena selama ini merasa baik-baik saja hubungan dengan istrinya. “Apalagi uang sudah saya kirim ke adik istri. Jadi, saya tidak pegang apa pun selama 3,5 tahun bekerja di Papua,” beber CH.

Karena niat cerai sang istri sudah tak terbendung, CH berusaha mencari tahu kepada mertuanya tentang nasib uang yang rencananya dibuat membangun rumah. “Uang katanya habis. Saya tanya untuk apa, selalu tidak bisa menjawab,” cerita CH memelas.

Tak punya solusi tentang nasib keluarganya, CH berencana mengambil kayu dan batu bata material bangunan yang sudah dibelanjakan. Namun oleh mertua dan istrinya, usaha itu dicegah. “Saya boleh mengambil, tapi hanya separo saja,” kata CH.

CH tak tahu lagi harus ke mana mengadu masalah tersebut. Jika memang akhirnya bercerai, CH ingin agar uang yang telah dikumpulkan bertahun-tahun itu bisa dibagi sebagai gono-gini sesuai dengan hukum pernikahan.

Namun, dirinya lebih berharap agar rencana cerai yang diajukan istrinya dari luar negeri dapat dibatalkan demi anak dan keluarganya.

Sementara itu, NP tidak memberikan respons saat dikonfirmasi. Dihubungi melalui nomor selulernya, HP yang dihubungi tidak aktif lagi.

Buat lebih bermanfaat, bagikan:

Tinggalkan Komentar